Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyah for Kids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyah for Kids. Tampilkan semua postingan

Masa Remaja Nabi SAW

Muhammad yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dengan ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqat, yang melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka. Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.

Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kalau Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para penyair, ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato dengan keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang Fijar.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PERJALANAN PERTAMA KE SYAM

Ketika usia Muhammad baru duabelas tahun, ia turut dalam rombongan kafilah dagang bersama sang paman ke negeri Syam. Dalam perjalan tersebut, mereka bertemu dengan rahib Bahira. Rahib tersebut telah melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.
Dalam perjalanan itulah, Nabiyullah mendapat pengalaman dan wawasan yang berguna. Beliau dapat melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadit’l-Qura serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dsegala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta’if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam Muhammad mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan otak, tinjauan yang begitu dalam, ingatan yang cukup kuat, serta segala sifat-sifat semacam itu yang diberikan Allah kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KEMATIAN BUNDA AMINAH

Ketika Muhammad berusia 6 tahun, Bundanya, Aminah membawanya ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar. Sesampainya di Madinah,diperlihatkan kepada Muhammad kuburan sang ayah, Abudullah. Saat itulah, Muhammad merasakan dirinya sebagai yatim.
Muhammad dan ibunya tinggal di Madinah selama sebulan. Setelah itu, mereka bersama rombongan kembali pulang. Akan tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa’, ibunda Aminah menderita sakit. Sang ibu pun meninggal dan dikuburkan di tempat itu. Muhammad kembali pulang bersama rombongan dengan membawa perasaan sedih. Muhammad telah kehilangan sang ayah dan baru saja ditinggal oleh ibunya. Kini, Muhammad hidup sebagai yatim-piatu.
“Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?” (Qur’an, 93: 6-7)
Setelah itu, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Namun sayang, sang kakek yang dicintainya itu pun meninggal tak lama kemudian. Dalam usia delapan tahun, Muhammad telah kehilangan orang-orang yang dicintainya dalam hidupnya. Dia ditinggal oleh Ayahnya ketika masih dalam kandungan juga Ibu dan kakek dalam usia kanak-kanak. Muhammad dilanda kesedihan lagi karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Muhammad mengantarkan keranda jenazah sang kakek dengan perasaan sedih.
Sebelumnya Abdul Muthalib sang kakek telah menyerahkan pengasuhan cucunya kepada anaknya, Abu Thalib. Kemudian pengasuhan Muhammad di pegang oleh sang paman, Abu Talib. Meskipun hidup dalam keadaan susah dan miskin, Abu Talib sangat menyayangi Muhammad. Abu Talib mencintai keponakannya sama seperti Abdul Muthalib, ayahnya. Karena kecintaannya, dia mendahulukan kepentingan keponakannya daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati telah menarik hati sang paman.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MASA KECIL RASULULLAH

Sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah bahwa anak yang baru lahir disusukan kepada salah seorang Keluarga Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan, Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba. Seorang budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu Muhammad disusukan, kemudian Hamzah juga disusukannya. Jadilah mereka saudara sesusuan. Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan Muhammad.
Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa’d yang akan menyusukan. Mereka memang mencari bayi yang akan disusukan. Akan tetapi, mereka menghindari anak-anak yatim karena mengharapkan upah yang lebih. Oleh karena itu, di antara mereka tidak ada yang mau mendatangi Muhammad. Salah seorang dari mereka, Halimah bint Abi-Dhua’ib, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Setelah mereka akan meninggalkan Mekah, Halimah memutuskan untuk mengambil Muhammad. Halimah bercerita bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya.
Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa Muhammad kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Selama dua tahun lagi Muhammad tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas.
Pada masa itu, sebelum usia MUhammad mencapai tiga tahun terjadi sebuah peristiwa. Saat Muhammad dan saudaranya yang sebaya berada di belakang rumah, tiba-mereka kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapaknya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.” Dan tentang Halimah pergi ke tempat itu dan menjumpai Muhammad sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. “Kenapa kau, Nak?” tanya Halimah.
Muhammad menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka cari.”
Halimah bersama keluarganya ketakutan, kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri Muhammad. Sesudah itu, Muhammad dibawa kembali kepada ibunya di Mekah. Kemudian Abdul Muthalib yang bertindak mengasuh cucunya itu. Ia memeliharanya sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucunya
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

KELAHIRAN RASULULLAH

Usia Abdul Muthalib sudah hampir mencapai tujuh puluh tahun saata Abrahah mencoba menyerang Ka’bah. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah dua puluh empat tahun, dan sudah tiba masanya menikah. Abdullah menikahi Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra.
Beberapa saat setelah pernikahan, Abdullah pun pergi untuk urusan perdagangan ke Suria. Dia meninggalkan isteri yang sedang mengandung. Dalam perjalanannya, Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dia juga pergi ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian, dia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah sekadar melepas lelah selama perjalanan. Sesudah itu, dia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi, Abdullah menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannya pun pulang lebih dulu meninggalkannya.
Abdul Muthalib mengutus Harith, anak sulungnya yang juga kakak Abdullah. Sesampainya di Madinah, Harith mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula. Harith kembali pulang membawa perasaan duka atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih juga dirasakan Abdul Muthalib dan juga Aminah.
Aminah melahirkan beberapa bulan kemudian. Aminah melahirkan seorang anak laki-laki. Berita gembira itu segera diberitahukan kepada Abdul Muthalib yang sedang berada di Ka’bah. Alangkah gembiranya Abdul Muthalib setelah menerima berita. Sekaligus dia juga teringat kepada Abdullah, anaknya. Hatinya sangat gembira karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Abdul Muthalib segera menemui Aminah dan menggendong bayi itu, lalu membawanya ke Ka’bah. Bayi itu diberi nama Muhammad. Sebuah nama yang asing di kalangan orang Arab.
Pada hari ketujuh kelahiran Muhammad, Abdul Muthalib minta disembelihkan unta. Kemudian, mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah orang-orang Quraisy mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad. Mereka pun bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang.
“Kuinginkan dia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi,” jawab Abdul Muthalib.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sebelum Kelahiran Rasulullah

Penggalian Sumur Zam-Zam
Tugas menyediakan bahan makanan dan air minum bagi jamaah haji merupakan hal yang sangat sulit pada waktu itu. Untuk mengatasi kesulitan air tersebut, Abdul Muthalib berencana untuk menggali kembali sumur (zam-zam) yang telah lama tertimbun. Ini adalah pekerjaan sulit dan banyak memerlukan tenaga. Pada waktu itu Abdul Muthalib baru mempunyai seorang anak saja, Harith. Sedangkan untuk minta bantuan orang lain, sulit diharapkan.
Untuk melaksanakan rencana tersebut Abdul Muthalib berdoa agar diberi anak yang banyak. Bahkan, ia bernadzar akan menyembelih salah seorang anaknya untuk kurban bila doanya dikabulkan. Beberapa tahun kemudian lahirlah anak-anaknya, di antaranya adalah Abu Thalib, Abbas, Abu Lahab, Zubair, dan Abdullah. Penggalian sumur pun dapat dilaksanakan oleh Abdul Muthalib dengan bantuan putra-putranya.
Setelah penggalian sumur selesai, Abdul Muthalib berniat melaksanakan nadzarnya, yaitu menyembelih salah seorang putranya sebagai kurban. Dengan disaksikan banyak orang, Abdul Muthalib membawa anak-anaknya ke dekat Ka’bah, lalu mengundi siapa yang akan dijadikan kurban. Dari undian tersebut, ditentukan bahwa Abdullah yang akan dijadikan kurban.
Abdul Muthalib kemudian membawa Abdullah ke tempat penyembelihan di dekat sumur zam-zam, dan bersiap-siap untuk menyembelih Abdullah. Masyarakat menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankan agar menghubungi perempuan ahli nujum di Yatsrib. Di hadapan wanita ini dilakukan undian lagi, yang akhirnya Abdullah tidak jadi disembelih. Sebagai gantinya disembelih 100 ekor unta. Peristiwa tersebut membuat nama Abdul Muthalib dan Abdullah terkenal di seluruh tanah Arab. Tidak lama kemudian Abdullah menikah dengan Aminah dan tinggal di Mekkah.

Pasukan Gajah
Pada tahun kelahiran Nabi ada peristiwa besar. Pasukan berkendaraan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah berniat menghancurkan Ka’bah sebagai rumah Tuhan. Setiap tahun Ka’bah diziarahi orang-orang Arab.
Abrahah adalah seorang panglima perang Kerajaan Habsyi yang beragama Nasrani. Dia mengangkat diri sebagai Gubernur Yaman, setelah menghancurkan Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Dia juga membangun gereja besar. Tujuannya agar orang-orang Arab tidak lagi berziarah ke Ka’bah, namun berganti berziarah ke gerejanya. Meskipun demikian, bangsa Arab tetap menziarahi Ka’bah setiap tahunnya, dan tidak mau menziarahi gereja Abrahah. Kemudia Abrahah berniat hendak menghancurkan Ka’bah. Dia berpikir jika Ka’bah hancur, pasti orang-orang tidak akan mengunjungi Makkah lagi dan akan berziarah ke gerejanya.
Abrahah mengerahkan pasukan besar dan berkendaraan gajah untuk menyerbu Makkah. Di dekat kota Makkah pasukan itu berhenti. Abrahah mengutus pesuruhnya, yang bernama Hunata untuk menemui Abdul Muthalib. Abdul Muthalib hanya bisa pasrah, karena dia bersama rakyat Makkah tidak mampu melawan pasukan Abrahah. Abdul Muthalib bersama penduduk Makkah mengungsi ke luar kota Makkah. Abrahah merasa senang karena tidak mendapat perlawanan. Kemudian Abrahah bersama pasukannya memasuki kota Makkah dan berniat menghancurkan Ka’bah.
Akan tetapi, tiba-tiba Allah SWT menampakkan kekuasaan-Nya. Allah mengutus burung-burung Ababil yang membawa batu yang bernama Sijjiil. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan Gajah sehingga pasukan itu mati bersama Gajahnya. Kejadian itu membuat Abrahah panik dan melarikan diri kembali ke Yaman. Akhirnya, Abrahah pun menemui ajalnya.
Al Qur’an menceritakan peristiwa ini dalam Surat Al-Fil. “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankan Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia ? Nan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu-batu cadas yang terbakar, maka Dia jadikan mereka bagai daun dimakan ulat”.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TANAH KELAHIRAN RASULULLAH


“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridloan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak bekas sujud di muka mereka. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu menjadikan tanaman kuat, lalu menjadi besarlah dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(Al-Fath : 29)
---------------
Tanah semenanjung tempat kelahiran Rasulullah terletak di bagian barat daya benua Asia. Tempat tersebut bernama Jazirah Arab. Sebuah gurun pasir dengan luas sekitar 12.000 mil persegi, dan hampir sepertiganya adalah tanah pasir. Hasil perkebunan dari tanah Arab waktu itu adalah kurma. Binatang yang hidup di sana adalah unta dan kuda Arab.
Kota tempat lahir Nabiyullah adalah kota Makkah. Kota tersebut, sudah sejak lama menjadi kota pusat keagamaan, tempat berkumpul, dan melaksanakan upacara bagi tanah Arab. Di dalam kota Makkah terdapat Ka’bah, yaitu rumah suci pertama di dunia. Sejak dahulu Ka’bah menjadi tujuan ziarah dari segenap penjuru tanah Arab. Di sana terpasang batu hitam di salah satu sudutnya, bernama hajar aswad, yang sampai sekarang dimuliakan orang, dicium oleh orang-orang yang mengerjakan ibadah haji.
Keadaan Bangsa Arab Masa Itu
Pada masa itu keadaan bangsa Arab disebut berada di zaman jahiliyah. Penduduknuya kebanyakan penyembah berhala. Di Ka’bah sendiri terdapat tidak kurang dari 360 berhala untuk disembah. Di beberapa tempat ada juga yang beragama Nasrani dan Yahudi.
Keadaan wanita pada masa itu sangat memprihatinkan. Jika seorang bayi perempuan lahir, maka ditimbunlah anak tersebut dengan tanah langsung dikubur. Pada masa itu banyak penduduk yang tidak menghrapakan kelahiran anak perempuan. Keadaan tersebut membuat jumlah perempuan sedikit.
Perjudian dan minuman keras di kalangan bangsa Arab masa itu dianggap sebagai tanda kehormatan. Perbudakan merajalela. Mereka memperlakukan budak-budak sebebas-bebasnya. Bahkan hidup dan mati seorang budak, tergantung pada tuannya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS